
Dorong Penguatan Disiplin dan
Evaluasi Keamanan Pertandingan
JAKARTA-Mediasenior|20102026
— Komite Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sejumlah sanksi kepada klub dan
panitia pelaksana pertandingan menyusul insiden yang terjadi dalam kompetisi
BRI Super League 2026/2027 dan Pegadaian Championship 2026/2027 pada 17 Oktober
2026.
Keputusan tersebut tertuang dalam surat keputusan Komdis
PSSI tertanggal 20 Oktober 2026. Sanksi diberikan atas sejumlah pelanggaran,
mulai dari kegagalan menjaga keamanan pertandingan hingga kerusuhan
antarkelompok suporter yang mengakibatkan korban luka.
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menegaskan bahwa
keputusan tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan
sepak bola nasional, terutama dalam menjaga keamanan dan kenyamanan
pertandingan di tengah dibukanya kembali kesempatan bagi suporter tim tamu
untuk hadir langsung di stadion.
Dalam konferensi pers di Kantor I.League, Jakarta, Rabu
(21/10/2026), Ferry menekankan bahwa kehadiran suporter tandang harus disertai
tanggung jawab bersama, baik dari klub, panitia pelaksana, maupun suporter.
"Ketika suporter tandang diizinkan hadir, ada
beberapa catatan yang harus diperhatikan bersama. Untuk pertandingan yang
memiliki rivalitas atau berpotensi menimbulkan keributan, salah satu landasan
utamanya adalah rekomendasi dari pihak kepolisian. Karena itu, seluruh pihak
harus benar-benar menjaga ketertiban dan keamanan," ujar Ferry.
Persita dan Persija Terima Sanksi
Dalam kompetisi BRI Super League 2026/2027, Persita
Tangerang dan Persija Jakarta menjadi dua klub yang dijatuhi sanksi menyusul
insiden dalam pertandingan kedua tim pada 17 Oktober 2026.
Panitia pelaksana pertandingan Persita Tangerang dijatuhi
denda sebesar Rp40 juta karena dinilai gagal menjalankan tanggung jawab dalam
menjaga ketertiban dan keamanan pertandingan. Insiden tersebut melibatkan keributan
antara kelompok suporter Persita dan Persija yang mengakibatkan korban luka.
Selain itu, Persita Tangerang sebagai klub dijatuhi denda
Rp30 juta serta larangan kehadiran suporter dalam satu pertandingan tandang
saat menghadapi Persija Jakarta. Sanksi tersebut diberikan menyusul kerusuhan
berupa aksi saling lempar dan saling kejar antarkelompok suporter.
Sementara itu, Persija Jakarta menerima dua sanksi
berbeda.
Pertama, denda Rp60 juta atas pelanggaran berupa
penyalaan petasan sebanyak tiga kali dan pelemparan satu buah flare ke arah
suporter Persita Tangerang.
Kedua, Persija dijatuhi denda Rp30 juta serta larangan
kehadiran suporter dalam enam pertandingan tandang BRI Super League 2026/2027
akibat insiden kerusuhan antarsuporter yang juga mengakibatkan korban luka.
PSGC Ciamis dan PSIS Semarang Juga Dijatuhi Sanksi
Sanksi serupa juga dijatuhkan dalam kompetisi Pegadaian
Championship 2026/2027, menyusul insiden yang terjadi dalam pertandingan PSGC
Ciamis melawan PSIS Semarang pada 17 Oktober 2026.
Panitia pelaksana pertandingan PSGC Ciamis dijatuhi denda
Rp20 juta karena dinilai gagal menjaga ketertiban dan keamanan. Akibat insiden
tersebut, bus tim PSIS Semarang tertahan di stadion selama 30 menit.
PSGC Ciamis sebagai klub juga menerima sanksi larangan
kehadiran suporter dalam satu pertandingan tandang saat menghadapi PSIS
Semarang, disertai denda Rp15 juta. Sanksi diberikan menyusul keributan antara
suporter kedua tim yang terjadi saat pertandingan maupun setelah laga berakhir.
Adapun PSIS Semarang dijatuhi denda Rp15 juta serta
larangan kehadiran suporter dalam enam pertandingan tandang di Pegadaian
Championship 2026/2027 atas insiden keributan antarsuporter dalam pertandingan
yang sama.
I.League Minta Klub Tingkatkan Pembinaan Suporter
Ferry Paulus menegaskan bahwa berbagai sanksi tersebut
harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh klub agar kejadian serupa tidak
kembali terulang.
Menurutnya, I.League akan terus berkoordinasi dengan PSSI
dan pihak kepolisian untuk memperkuat upaya pencegahan serta mendorong
penegakan disiplin terhadap setiap pelanggaran yang mengganggu jalannya
kompetisi.
"Sebagai penyelenggara kompetisi, kami akan terus
mendorong PSSI agar memberikan sanksi yang lebih tegas apabila insiden seperti
ini kembali terulang. Jika diperlukan, terhadap klub atau suporter yang
berulang kali menimbulkan gangguan, harus ada langkah yang lebih serius,"
tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran klub dalam melakukan
pembinaan dan edukasi terhadap suporter. Dukungan kepada tim, menurut Ferry,
harus disampaikan secara positif tanpa mengorbankan keselamatan maupun
kenyamanan penonton lainnya.
Ferry menyoroti perkembangan positif sepak bola
Indonesia, khususnya meningkatnya kehadiran keluarga, perempuan, dan anak-anak
yang menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion.
"Kita melihat bahwa semakin banyak penonton,
termasuk ibu-ibu dan anak-anak, yang datang ke stadion. Ini menunjukkan bahwa
kenyamanan dalam pertandingan semakin penting untuk kita jaga. Jangan sampai
tindakan segelintir oknum justru mengganggu perkembangan positif sepak bola
Indonesia," lanjut Ferry.
Wacana Penguatan Regulasi dan Sanksi
Lebih jauh, Ferry menyampaikan bahwa I.League akan terus
mendorong penguatan regulasi apabila diperlukan. Salah satu opsi yang
disebutkannya adalah kemungkinan penerapan sanksi tambahan berupa pengurangan
poin melalui regulasi tersendiri.
Menurut Ferry, penguatan sanksi harus diarahkan untuk
memberikan efek jera sekaligus mencegah terulangnya pelanggaran yang dapat
merugikan klub, suporter, dan penyelenggara kompetisi.
I.League berharap keputusan Komdis PSSI tersebut menjadi
peringatan bagi seluruh klub, panitia pelaksana, dan suporter agar meningkatkan
tanggung jawab dalam menjaga keamanan pertandingan.
Dengan koordinasi antara PSSI, I.League, klub, aparat
keamanan, dan kelompok suporter, kompetisi BRI Super League serta Pegadaian
Championship 2026/2027 diharapkan dapat berlangsung semakin tertib, aman, dan
nyaman bagi seluruh pencinta sepak bola Indonesia. (sumber: ligaindonesiabaru.com)
Berikan Komentar