Mengajak Penonton Bhayangkara FC Datang ke Stadion Sumpah Pemuda

Mengajak Penonton Bhayangkara FC Datang ke Stadion Sumpah Pemuda

Oleh : Edi Purwanto – wartawan olahraga

BANDARLAMPUNG – Data konkret prestasi Bhayangkara Presisi Lampung FC (Bhayangkara FC) dibawah pelatih Oscar Bruzon menunjukkan  ada perubahan yang signifikan dalam tim.

Terbukti dalam 4 pertandingan awal musim kompetisi Super League 2026 Bhayangkara FC belum mengalami kekalahan, dengan nilai sementara 6, sekali menang dan 3 kali seri. Posisi sementara di ranking 10.

Perjalanan awal yang cukup untuk seorang pelatih baru di time lit sekelas Bhayangkara FC, meskipun belum sepadan dengan Persija yang saat ini dibawah Sin Tae Yong kini kokoh di puncak klasemen dengan nilai penuh.

Memang, empat pertandingan bukanlah ukuran sukses sampai akhir kompetisi, tetapi memberikan kepercayaan kepada tim juga sangat perlu, untuk terus menatap hasil positif di pertandingan selanjutnya.

 Sebelum lanjut pada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi penonton dengan senang hati datang ke stadion Sumpah Pemuda untuk mensupport maupun sekedar menikmati indahnya penampilan tim Lampung, coba saya review dulu empat pertandingan terakhir.

Pada 5 September 2026 — Bhayangkara FC ditahan imbang tamunya Persebaya di Way Halim dengan skor 1-1. Tim Oscar belum mampu mengamankan kemenangan, tetapi berhasil memperoleh poin melawan Persebaya.

Pertandingan kedua, 11 September 2026, di Banten, Dewa United  mampu menahan2–2 Bhayangkara FC. Pada pertandingan itu Bhayangkara dua kali unggul, tetapi gagal membawa pulang kemenangan. Ini menjadi catatan awal mengenai kemampuan tim menjaga keunggulan.

Pertandingan ketiga, di Stadion Sumpah Pemuda Way Halim, 19 September 2026, Bhayangkara FC menang 2–0 dari tamunya tim promosi Isenmulang Kalteng FC.

Kemenangan perdana Oscar di liga. Allano Brendon mencetak gol pada menit ke-56 dan Teuku Muhammad Ichsan menambah gol pada menit 90+5.

Pertandingan keempat, di stadion bersejarah, Kanjuruhan Malang pada 10 Oktober 2026 bertamu di kandang Arema FC. Sebenarnnya Bhayangkara FC mengawali pertandingan dengan gagah perkasa tatkala menutup babak pertama dengan skor 0-2.

Namun dua gol itu ternyata belum cukup menuai 3 poin lantaran tuan rumah yang dijuluki “Singo Edan” itu melakukan comeback dengan dua  gol di babak kedua, sehingga keududukan akhir 2-2, satu poin.

Sampai saat ini Bhayangkara FC punya 7 gol tetapi kemasukan 5 gol, dengan selisih positif 2 gol. Perhitungan tersebut berasal dari empat hasil pertandingan di atas. Dengan enam poin, Bhayangkara berada di peringkat ke-10 klasemen sementara setelah pekan keempat, menurut data klasemen yang tersedia.

Apa yang berubah

Menurut saya, ada tiga hal penting yang layak dicermati. Pertama, Bhayangkara mulai menunjukkan keberanian menyerang. Hasil imbang 2–2 melawan Dewa United dan Arema memperlihatkan bahwa tim mampu menciptakan gol saat bermain tandang.

Khusus melawan Arema, keunggulan dua gol pada babak pertama menunjukkan efektivitas serangan mereka. Namun, efektivitas menyerang belum otomatis berarti permainan sudah konsisten selama 90 menit.

Kedua, Moussa Sidibé menjadi salah satu pemain kunci dalam membangun serangan. Kontribusinya pada kedua gol ke gawang Arema menunjukkan pentingnya kemampuan melebar, mengirim umpan, dan membuka ruang. Apabila lawan berhasil membatasi pergerakannya, Bhayangkara harus memiliki alternatif serangan melalui tengah dan sisi seberang.

Ketiga, masalah konsentrasi dan pengelolaan keunggulan masih menjadi pekerjaan rumah. Kebobolan dua gol setelah unggul 2–0 di Kanjuruhan merupakan contoh paling jelas. Oscar sendiri menyoroti hilangnya konsentrasi tim pada babak kedua.

Sejauh ini, Oscar telah membangun fondasi yang cukup menjanjikan, tetapi Bhayangkara belum membuktikan konsistensi untuk mengubah dominasi dan keunggulan menjadi kemenangan. Empat pertandingan tanpa kekalahan merupakan modal positif, tetapi tiga hasil seri juga menunjukkan adanya poin yang terlepas.

Satu hal yang perlu terus menjadi perhatian semua pemain adalah stabilitas konsenterasi yang kurang konstan. Beberapa kali terkena comeback lawan adalah pelajaran utama, bahwa fokus sampai akhir pertandingan adalah mutlak.

Ajak Penonton ke Stadion

Dengan situasi sekarang ini mungkin keinginan Gubernur Lampung bahwa Bhayangkara FC akan menjadi tontonan masyarakat Lampung akan semakin dekat.

Meskipun hadirnya penonton bukan berarti mereka sebagai fans, tetapi terpenting adalah kehadiran penonton memberikan kesempatan untuk menunjukkan kualitas tim di depan penontonnya.

Berdasarkan data yang saya temukan, ada sinyal positif yang cukup kuat.

Untuk musim BRI Super League 2026/2027, sampai sekarang baru ada dua pertandingan kandang liga yang sudah berlangsung di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, pada pertandingan melawan Persebaya, jumlah penonton sekitar 3.058 orang, hasil pertandingan 1-1. Tidak kalah.

Pada pertandingan kandang kedua melawan tim promosi Isenmulang FC, penonton yang hadir naik menjadi 3.591 orang, artinya ada kenaikan minat penonton.

Meskipun angka ini sekilas tampak tidak penting, namun naiknya sekitar 533 penonton atau 17,4% ini juga seyogyanya dilihat oleh manajemen sebagai sebuah trend yang bisa ditingkatkan.

Alasannya, lawan kedua bukan Persebaya, yang mempunyai basis suporter nasional besar. Namun ketika melawan Isenmulang yang pendatang baru, jumlah penonton justru meningkat.

Ini mengindikasikan bahwa sebagian penonton mulai datang bukan semata-mata karena nama lawan, tetapi mulai tertarik kepada Bhayangkara FC sebagai tontonan di Bandar Lampung.

Diatas saya sampaikan, meskipun penonton yang hadir bukanlah fans fanatik Bhayangkara FC, namun ada sebagian masyarakat yang mulai suka permainan Bhayangkara FC, dengan gaya yang semakin tidak monoton dan atraktif. Ada indikasi awal terbentuknya kebiasaan masyarakat Lampung untuk datang menyaksikan Bhayangkara FC di sini.

Beberapa Faktor

Kemenangan itu menghasilkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh promosi sebesar apa pun yakni kepercayaan. Semoga Oscar paham situasinya ini. Penonton di Lampung adalah penonton yang dewasa dan sportif.

Semoga Oscar juga berfikir bahwa penonton di Bandarlampung mulai berpikir: “Kalau saya datang ke stadion, Bhayangkara bisa menang.” Kalau pikiran tersebut terbentuk, itu modal luar biasa untuk marketing klub.

Ada beberapa faktor untuk membuat masyarakat datang ke stadion. Salah satunya adalah prestasi tim dan menariknya pertandingan. Kemudian adanya diskon harga tiket juga bisa mempengaruhi penonton usia muda.

Banyak faktor lainnya yang bisa menaikkan animo penonton, yang salah satu yang penting adalah empati panitia pelaksana pertandingan agar lebih humanis dan berlaku sebagai marketing yang professional.

Berlaku ramah dan friendly pada masyarakat yang menonton di stadion adalah syarat utama untuk tim bisa berangsur-angsur mendapatkan dukungan secara organic dari masyarakat.

Meskipun manajemen dan pelatih belum mendapatkan salah satu pemain asli Lampung di tim utama, mungkin bisa sedikit dikesampingkan sementara untuk sekedar bisa memenuhi keinginan ditonton masyarakat.

Namun kedepan faktor ini tetap penting untuk mengundang minat penonton Lampung secara permanen.
Yaa sudah. Kita yakin saja manajemen lebih professional, dan tak perlu diragukan lagi untuk bisa memenuhi stadion ini seperti tim-tim besar seperti Persib dan Persija misalnya. (*)

Berikan Komentar