Mediasenior/bandarlampung/sport/05092026
--- Skor 1-1 mungkin terlihat sederhana. Namun, hasil
imbang Bhayangkara Presisi Lampung FC kontra Persebaya Surabaya pada partai
perdana BRI Super League 2026/2027 di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, Way Halim,
Bandar Lampung, Sabtu 5 September 2026, menyimpan cerita yang jauh lebih
menarik.
Bagi Persebaya, satu poin dari Lampung merupakan hasil
yang cukup berharga. Sementara bagi Bhayangkara, hasil tersebut dapat dibaca
sebagai tanda awal bahwa racikan pelatih baru Óscar Bruzón mulai menunjukkan
bentuk.
Pertandingan ini sekaligus menjadi ujian pertama Bruzón
dalam kompetisi resmi setelah menggantikan Paul Munster. Dan dari 90 menit
pertandingan, terlihat jelas bahwa Bhayangkara sedang dibangun dengan karakter
permainan yang berbeda.
Perubahan itu paling menarik terlihat pada bagaimana Bruzón
memperlakukan Moussa Sidibé. Sidibe tidak lagi dipagari. Sidibé seperti mendapatkan kembali ruang
untuk menjadi dirinya sendiri.
Pemain asal Mali tersebut tidak terlihat dikunci pada
satu area tertentu. Pergerakannya lebih bebas, turun menjemput bola, berpindah
sisi, masuk ke ruang antarlini dan mencoba membuka jalan bagi pemain lain.
Bahkan, Bruzón mempercayakan ban kapten kepada Sidibé
pada pertandingan perdana tersebut. Sebuah keputusan yang menarik karena
menunjukkan bukan hanya kepercayaan terhadap kualitas teknis sang pemain,
tetapi juga keyakinan bahwa Sidibé dapat menjadi salah satu pusat karakter
permainan Bhayangkara FC.
Sebelum pertandingan, Sidibé memang sudah dikenal sebagai
salah satu pemain penting Bhayangkara FC. Pada musim sebelumnya ia menjadi
salah satu pemain yang sangat menonjol dan bahkan pernah dinobatkan sebagai
pemain terbaik setelah tampil menentukan dalam kemenangan Bhayangkara FC atas
Madura United.
Kini Bruzón tampaknya tidak ingin membatasi naluri bermainnya.
Dan keputusan itu langsung memberikan hasil.
Ketika Bhayangkara membutuhkan gol setelah tertinggal
0-1, Sidibé muncul sebagai pemain yang membuka jalan. Pada menit ke-59,
pergerakannya menghasilkan umpan yang kemudian disambut Allano Lima dengan sundulan
untuk mengubah skor menjadi 1-1.
Sidibé tidak mencetak gol. Tetapi ia menciptakan gol.Itulah
salah satu pesan penting dari pertandingan perdana ini.
Persebaya Efektif
di Babak Pertama
Persebaya memang pantas mendapatkan pujian. Pada babak
pertama, tim tamu tampil lebih efektif dalam memanfaatkan momentum. Bhayangkara
sebenarnya sempat mendapatkan peluang, tetapi Persebaya lebih mampu mengubah
kesempatan menjadi ancaman nyata.
Gol Yann Mabella pada menit ke-13 menjadi bukti efektivitas
tersebut. Mabella memanfaatkan situasi ketika kiper Bhayangkara keluar cukup
jauh dari sarangnya. Ia berhasil melewati penjaga gawang, kemudian membawa bola
sebelum melepaskan tembakan ke gawang yang sudah kosong.
Gol itu membuat Bhayangkara harus bekerja lebih keras. Namun
menariknya, tim asuhan Bruzón tidak kehilangan arah.
Memasuki babak kedua, Bhayangkara justru tampil lebih
agresif. Tekanan meningkat dan Persebaya dipaksa lebih banyak bertahan. Laporan
pertandingan Persebaya sendiri mencatat lima menit awal babak kedua sebagai
periode yang cukup sibuk bagi lini pertahanan mereka. Tekanan itulah yang
akhirnya melahirkan gol Allano.
Oscar dan Intuisi
Meramu Pemain
Di sinilah kualitas Bruzón mulai menarik untuk diamati. Bhayangkara
musim ini bukan tim yang sudah selesai. Ini adalah tim yang sedang dibentuk.
Ada pemain lama, ada pemain baru, ada karakter permainan yang harus disatukan, dan ada sejumlah pemain yang masih membutuhkan waktu untuk memahami satu sama lain. Dalam kondisi seperti itu, pekerjaan pelatih bukan sekadar memilih sebelas pemain terbaik.
Pekerjaan yang lebih sulit adalah menemukan kombinasi
yang membuat sebelas pemain tersebut menjadi sebuah tim.
Dan Bruzón tampaknya memiliki intuisi ke arah sana. Memasang
Sidibé dengan kebebasan bergerak, memberi kepercayaan sebagai kapten, kemudian
mengombinasikannya dengan pemain-pemain seperti Allano, Ocampo dan pemain baru
lainnya, menunjukkan bahwa Bruzón sedang mencoba membangun Bhayangkara yang
lebih cair.
Karakter tersebut terasa berbeda dibanding era
sebelumnya. Jika sebelumnya Bhayangkara
lebih sering terlihat dengan pendekatan yang sangat disiplin dan pragmatis,
kini ada kecenderungan untuk memberikan ruang lebih besar kepada pemain kreatif
dalam mengambil keputusan di lapangan.
Tentu, terlalu dini untuk mengatakan bahwa Bruzón sudah
menemukan formula terbaik. Tetapi setidaknya arahnya sudah mulai terlihat.
Satu Poin yang
Justru Penting
Secara hasil, mungkin ada yang melihat Bhayangkara
kehilangan dua poin karena bermain di kandang.
Namun melihat konteks pertandingan, saya justru melihat
skor 1-1 sebagai hasil yang cukup adil.
Persebaya tampil efektif dan mampu mencuri keunggulan
lebih dahulu.
Bhayangkara kemudian mampu merespons, meningkatkan
tekanan dan menyamakan kedudukan.
Setelah skor 1-1, kedua tim masih memiliki kesempatan
untuk memenangkan pertandingan, tetapi tidak ada yang mampu menciptakan gol
kedua.
Dengan demikian, pembagian angka merupakan hasil yang
masuk akal. Terlebih, ini adalah pertandingan perdana Bhayangkara dengan tim
yang masih dalam proses adaptasi.
Bahkan Bruzón sendiri mengakui timnya belum sepenuhnya
puas dengan hasil tersebut. Ia menyebut Bhayangkara sudah bekerja selama enam
pekan untuk menghadapi pertandingan pertama, tetapi belum berhasil mendapatkan
tiga poin. Ia juga menegaskan bahwa proses adaptasi dan pembenahan masih
diperlukan.
Artinya, satu poin ini bukan akhir dari pekerjaan. Justru
menjadi modal evaluasi.
PR Besar Oscar
Menyatukan Sidibé,
Ocampo, Allano dan Kawan-kawan. Jika
Bhayangkara memiliki target tinggi—bahkan membidik tiga besar—maka pekerjaan
Bruzón berikutnya justru semakin berat.
Bagaimana membuat Sidibé, Ocampo, Allano dan
pemain-pemain lainnya tidak hanya bagus secara individual, tetapi mampu bekerja
sebagai satu sistem? Itulah pertanyaan besar Bhayangkara setelah pertandingan
melawan Persebaya.
Sidibé sudah menunjukkan bahwa ketika diberikan
kebebasan, dia masih menjadi pemain yang berbahaya.
Allano juga langsung menunjukkan kualitasnya dengan
mencetak gol pada debut kompetitifnya.
Namun sepak bola bukan hanya tentang beberapa pemain
berkualitas. Kekuatan sebuah tim ditentukan oleh bagaimana pemain-pemain
tersebut saling mengisi. Dan di situlah Bruzón akan diuji.
Perbedaan Menarik di
Luar Lapangan
Satu hal lain yang juga menarik dari Bruzón adalah
caranya berkomunikasi dengan media.
Pelatih asal Spanyol itu terlihat cukup terbuka ketika
menjelaskan kondisi tim, evaluasi permainan dan apa yang harus diperbaiki.
Bagi media, ini tentu menjadi sesuatu yang positif. Sebab tugas wartawan bukan hanya memberitakan
skor, tetapi juga menjelaskan kepada masyarakat mengapa sebuah pertandingan
berjalan seperti itu, apa yang terjadi di dalam tim, dan ke mana arah sebuah
klub setelah pertandingan.
Dalam konteks tersebut, keterbukaan Bruzón memberikan
warna tersendiri. Ini menjadi salah satu perbedaan yang cukup mencolok
dibanding pendekatan komunikasi pelatih sebelumnya yang cenderung sangat
singkat dan berulang pada pesan seperti “I don't care” atau “only
focus”. Pendekatan Bruzón lebih komunikatif.
Ia bersedia menjelaskan proses, mengakui kekurangan,
sekaligus menyampaikan rencana perbaikan.
Dan untuk sebuah tim yang sedang dibangun ulang,
komunikasi seperti ini menjadi penting.
Bhayangkara di
Peringkat Kelima
Tambahan satu poin dari pertandingan melawan Persebaya
menempatkan Bhayangkara Presisi Lampung FC di peringkat kelima klasemen
sementara BRI Super League 2026/2027, setelah pertandingan-pertandingan Sabtu
(5/9) selesai.
Bhayangkara memiliki satu poin, sama seperti Persebaya,
Persita dan PSIM, tetapi berada di posisi kelima berdasarkan urutan klasemen
sementara. Posisi tersebut tentu belum berarti apa-apa karena kompetisi baru
berjalan satu pertandingan.
Tetapi ada satu kesimpulan menarik dari laga perdana ini.
Bhayangkara belum menjadi tim yang selesai. Tetapi Bhayangkara sudah mulai
memperlihatkan seperti apa tim yang ingin dibangun Oscar Bruzón.
Dan di tengah proses itu, Sidibé kembali menjadi salah
satu pusat perhatian.
Bukan karena mencetak gol. Melainkan karena ketika
diberikan kebebasan untuk bergerak, ia masih mampu menciptakan sesuatu.
Satu assist-nya kepada Allano cukup untuk menyelamatkan
Bhayangkara FC dari kekalahan di laga perdana.
Satu poin mungkin belum menggambarkan ambisi besar
Bhayangkara FC. Tetapi bagi Oscar Bruzón, satu poin dari Persebaya bisa menjadi
fondasi penting untuk membangun sesuatu yang lebih besar.
Sebab musim masih panjang.
Dan jika Bruzón berhasil menyatukan energi Sidibé,
kreativitas Ocampo, ketajaman Allano dan kekuatan pemain lainnya menjadi satu
sistem yang solid, Bhayangkara bukan tidak mungkin menjadi salah satu tim yang
menarik untuk diperhitungkan dalam perebutan papan atas. (don)
Berikan Komentar