Catatan Wartawan mediasenior.id (Bagian 1)
Mediasenior|Bandarlampung ---- Musim kompetisi 2026-2027 Liga Super Indonesia akan segera bergulir. Satu kontestan yang finish di peringkat 5 klasemen akhir musim 2025-26, Bhayangkara Presisi Lampung FC juga sudah bersiap akan mengarungi kompetisi bersama kontestan lainnya.
Mengapa
pemain seperti Sidibe layak dipertahankan, dan bagaimana kebijakan transfer
Bhayangkara terhadap talenta lokal?
Itu dua rangkaian pertanyaan yang masih terus muncul yang
mungkin sulit dijawab dengan kenyataan hari ini. Bahkan musim kompetisi depan Bhayangkara
Presisi Lampung FC memasang target tiga besar.
Namun di tengah ambisi besar itu, muncul satu pertanyaan sederhana,
seberapa besar keberadaan pemain asli Lampung mendapat ruang dalam proyek besar
The Guardian
di Bumi Ruwa Jurai?
Saya coba mencari “modal” untuk menulis ini, salah satunya dengan
menonton pertandingan resmi mantan klub Mousa Sidibe, Johor Darul Takzim (JDT)
di kompetisi Liga Malaysia. Kebetulan sore ini (saat tulisan ini dikonsep – 1
Agustus pukul 16.30 wib) sedang berlangsung pertandingan Piala FA Malaysia
antara UM-Damansara United berhadapan dengan JDT.
Kalau melihat racikan pelatih JDT, memang tim ini memiliki karakter keras
menyerang dan menekan sepanjang pertandingan, sehingga konsekuensinya sudah
jelas, seluruh pemain harus memiliki stamina dan fokus yang tinggi sepanjang
pertandingan.
Ini meskipun selintas, hanya satu pertandingan, namun memaklumi bagaimana
Sidibe yang tampil mobile dan selalu menjelajah di berbagai posisi itu
merupakan salah satu pengaruh tim lamanya, JDT.
Selain itu, kapabilitas Sidibe mumpuni dengan stamina dan akselerasi yang
sulit dikendalikan lawan, terutama saat lawan mulai kelelahan.
Maka memilih Sidibe sebagai pemain jangan yang memiliki bakat sebagai
destroyer di lapangan tengah ke depan, akan menjadi salah satu senjata yang
sangat tajam untuk tim.
Namun sayangnya, Bhayangkara juga berganti “koki”, sehingga kemahiran
Sidibe yang diakhir kompetisi membuat andil besar untuk tim yang terus menanjak
hingga fisinh di lima besar.
Sidibe pemain berkualitas yang dilepas JDT, sebuah klub yang cukup kayak
di Malaysia, dengan alasan yang tidak begitu rumit. Karena JDT tim elit
Malaysia yang banyak pemain sepadan
dengan Sidibe, dan Sidibe kalah bersaing untuk mendapatkan jam bermain dari
sang pelatih di JDT.
Harta Karun
Kenapa ada
istilah “Harta Karun” yang berhubungan dengan Mousa Sidibe ini. Harus diakui,
Bhayangkara sebelum ada Sidibe pada putaran pertama berada di urutan 9 dengan
nilai 23.
Tidak
melebihkan sosok pemain Mali ini, namun fakta dan data membuka mata kita bahwa
Bhayangkara FC seperti mendapatkan “harta karun” dengan kehadiran Mousa Sidibe
sejak awal putaran kedua Super League.
Didatangkan
pada 15 Januari dan diumumkan pada 18 Januari 2026. Sidibe
datang bersama Privat Mbarga untuk memperkuat Bhayangkara di putaran kedua
Super League 2025/26.
Dan kalau diperkenalkan pun, orang lebih melihat sosok
Privat Mbarga yang secara sepak terjang di Indonesia lebih banyak dan lebih
mengkilap ketimbang Sidibe.
Saat Moussa Sidibé dating sebagai
pemain pinjaman dari JDT, posisi Bhayangkara FC ada di tangga ke-9 klasemen,
dengan 23 poin.
Pada laga pembuka putaran kedua menghadapi Persita
Tangerang pada 24 Januari 2026. Bhayangkara bermain imbang 1-1 dan tetap berada
di posisi ke-9 dengan 23 poin.
Menariknya, Sidibe saat itu langsung dimainkan dan
memberikan assist kepada Privat
Mbarga untuk gol Bhayangkara untuk memaksa hasil imbang itu.
Sejak itu, tim Paul Munster terus mengalami peningkatan
performa dan terus merayap ke peringkat atas, bahkan pada pekan ke-28,
Bhayangkara sudah berada di posisi 4 dengan 47 poin, sementara Sidibe dalam 11
pertandingan sudah mencetak 10 gol + 6 assist. Itu statistik yang luar biasa
untuk pemain yang baru datang di tengah musim.
Nah, di sinilah “misteri Sidibe” mulai menarik. Dengan
fakta ini apakah Sidibe yang membuat Bhayangkara naik, atau sistem Paul Munster
yang membuat potensi Sidibe meledak?
Harta karun dari Johor ini, ternyata bukan sembarang
pemain, meskipun statusnya dipinjamkan. Karena secara kualitas, justru lebih
diatas rata-rata pemain Bhayangkara FC yang ada saat itu.
Saat Sidibe datang, Bhayangkara memang masih peringkat 9
dengan 23 poin dari 18 laga. Bahkan pada debutnya melawan Persita, Sidibe
langsung membuat assist untuk gol
Privat Mbarga.
Yang kemudian terjadi luar biasa adalah baru 9
pertandingan, Sidibe sudah mengoleksi 8 gol plus 5 assist, dan Bhayangkara naik ke peringkat 5 dengan 44 poin. Data
akhir bahkan ILeague mencatat Sidibe
menutup musim dengan 12 gol dan 6 assist sejak bergabung di putaran kedua.
Meledak atau
Melempem
Musim kompetisi 26-27 akan segera diluncurkan, lalu ada
sebuah pertanyaan lagi ini. “Apakah
Bhayangkara yang menghidupkan kembali Sidibe, atau justru Sidibe yang mengubah
wajah Bhayangkara?”
Ini masih menjadi misteri Sidibe. Dari pemain yang dilepas
JDT, akan menjadi mesin gol Bhayangkara”. Mungkin tidak ada yang peduli dengan
keadaan ini.
Dimata saya, kalau Sidibe bisa mencetak 12 gol dan 6
assist setelah datang di putaran kedua, sebenarnya yang keliru siapa, Sidibe,
sistem JDT, atau keputusan Bhayangkara.
Melihat
sosok Sidibe, ternyata menarik. Pemain asal Mali ini merupakan pemain yang
memiliki skill individu komplit, baik
dalam dribbling, yang memiliki
keuletan menahan bola dalam waktu yang cukup lama di kakinya.
Sidibe
juga memiliki visi bermain yang bagus. Di Bhayangkara Presisi hal ini
dibuktikannya. Dalam 9 kali bermain di ujung kompetisi, Sidibe mampu memberikan
assist 5 kali yang menjadi gol.
Artinya, reading the game pemain ini cemerlang.
Membaca kawan yang bebas dan potensial mencetak gol sangat tinggi.
Benarkah
Sidibe layak disebut sebagai mesin gol Bhayangkara ke depan, dan bagaimana bisa
menciptakan Sidibe sebagai monster di depan gawang lawan. Nanti
kita bahas diartikel berikutnya, termasuk bagaimana Sidibe di era pelatih Oscar
Bruzon. (bersambung)
Berikan Komentar