Warna Sepakbola Amatir Indonesia Masih Sama Dengan 20 Tahun Lalu

Warna Sepakbola Amatir Indonesia Masih Sama Dengan 20 Tahun Lalu

Mediasenior|Bandarlampung|Sepakbola|13022026

----- Warna sepakbola amatir Indonesia masih sama dengan 20 tahun lalu, ini tampaknya yang agak identic dengan gelaran final sepakbola Liga 4 zona Lampung musim kompetisi 2025-2026.

Meski sekilas, kalimat ini memprihatinkan. Karena pesta kompetisi menuju satu level diatasnya, yang telah “cedera” karena kerusuhan yang didasari “rasa” emosi.

Pada final yang berlangsung di stadion Pahoman Bandarlampung mempertemukan dua tim yakni Farmes Angonsaka FC dari kabupaten Tanggamus dengan TS Saiburai FC dari kabupaten Pesawaran, awalnya berjalan normal-normal saja, saat pertandingan berjalan 45 menit pertama, meskipun agak keras.

Namun hingga babak pertama usai kedudukan masih skor kacamata, sehingga intensitas pertandingan meninggi memasuki babak kedua, karena kedua tim pasti menginginkan kemenangan untuk meraih satu tiket promosi ke liga 3, meskipun masih harus menjalani beberapa tahapan nasional lagi nantinya.

Namun tiket dari zona Lampung tetap sangat diperlukan sebagai modal ke tingkat nasional selanjutnya, di babak 38 besar.

Riagus Ria, Waketum II KONI Provinsi Lampung yang hadir dan menyaksikan langsung final dari tribun utama bersama Kadispora Lampung, Meiry Harika didampingi Ketua Asosiasi Futsal Provinsi Lampung, Edi Purwanto, sempat menghela nafas menyaksikan babak-babak akhir pertandingan final itu.

“Saya sebenarnya rindu menyaksikan sepakbola amatir di level seperti saat ini, karena ini merupakan jenjang terendah dalam sistem kompetisi sepakbola Indonesia jaman ini.” Katanya.

Riagus menilai bahwa sebenarnya pertandingannya berjalan bagus dan seimbang antara kedua tim, bahkan ini sebagai partai puncak yang pantas dalam gelaran Liga 4 zona Lampung 2025-2026.

“Ini bukan soal hasil pertandingan, menang atau kalah. Namun menurut saya ini soal kedewasaan dan mentalitas. Bukan saja pemain, pelatih dan ofisial, tetapi juga penonton. Semua belum bisa menahan diri dalam kapasitas sebagai pihak dimana dia duduk.” Kata Riagus.

Dalam pertandingan, lanjut Riagus, memang selalu berhubungan dengan wasit selaku pihak ketiga yang menjadi “pengadil”. Pihak ketiga ini juga sering menjadi kambing hitam keributan.

Meski tidak sepenuhnya karena wasit, namun kadang juga perlu dikaji lebih dalam untk setiap keputusan yang diambil.

“Kalau di Eropa, misalnya atau katakanlah di Liga profesioanl. Biasanya wasit selalu melakukan komunikasi dan menjelaskan setiap hasil keputusannya sebagai bentuk tanggungjawabnya sebagai pengadil. Meskipun itu juga belum cukup untuk memberikan rasa puas, terutama kepada pihak yang dihukum baik dengan pelanggaran, kartu kuning, kartu merah dan sebagainya,” tambah Riagus.

Kedepan, kata dia, PSSI harus memiliki daya tekan yang tepat untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini dengan reward dan punishmen. Untuk punishmen harus yang memiliki efek jera, namun harus dilakukan pembuktian dengan fair.

“Fair Play. Itu kata kuncinya. Jadi, semua pihak harus mengerti risiko terburuknya jika melakukan pelanggaran terhadap komitmen yang sudah disepakati bersama dan dituangkan dalam sebuah naskah semacam Pakta Integritas lah,” ungkapnya.

Riagus mengimbau kepada semua pihak agar bisa menahan diri dalam kapasitas yang menuju profesionalitas, agar olahraga yang suci itu tidak selalu dinodai sikap unsportif justru dari para pelakunya.

Penontonpun juga memiliki tanggungjawab yang sama untuk menjaga kondusivitas dalam pertandingan-pertandingan yang berlangsung. “Intinya, mari kita bertindak lebih dewasa.” Tutupnya. (tim/pras)

Berikan Komentar