Bukan Sekadar Adu Pukulan, FISTERA 2026 Dorong Tinju Jadi Jalan Pendidikan dan Pembentukan Karakter

Bukan Sekadar Adu Pukulan, FISTERA 2026 Dorong Tinju Jadi Jalan Pendidikan dan Pembentukan Karakter

Mediasenior|Bandarlampung|Tinju|08102026

--- Ring tinju tidak semata menjadi tempat menguji kekuatan fisik dan kemampuan teknik. Di balik setiap pertandingan, terdapat proses pendidikan yang mengajarkan disiplin, pengendalian emosi, sportivitas hingga keberanian menghadapi tekanan.

Perspektif itulah yang mengemuka dalam Kejuaraan Tinju FISTERA 2026 di Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kejuaraan yang diikuti 145 petinju pelajar, mahasiswa dan umum tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus ruang pembentukan karakter generasi muda.

Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Marlina Hafidz Muksin, menegaskan bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas.

Menurutnya, pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan nonakademik, termasuk olahraga kompetitif, dapat memberikan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh melalui proses akademik.

“Pembelajaran tidak hanya bisa didapatkan melalui akademik, tetapi juga melalui kegiatan nonakademik. Boxing, misalnya, merupakan kegiatan positif yang tidak hanya melatih kemampuan fisik, tetapi juga mengajarkan kedisiplinan, sportivitas, pengendalian emosi, dan bagaimana menyalurkan energi ke dalam aktivitas yang positif,” ujar Marlina, Rabu (30/9/2026).

Pernyataan tersebut menjadi relevan ketika olahraga ditempatkan bukan hanya sebagai aktivitas untuk mengejar kemenangan, tetapi sebagai bagian dari proses pembentukan pribadi.

Di atas ring, seorang petinju dituntut mengendalikan dirinya. Ia harus mampu mematuhi aturan, menghormati lawan, menerima keputusan wasit, mengelola tekanan dan tetap menjaga sikap, baik ketika menang maupun kalah.

Dengan demikian, pertandingan justru menjadi ruang praktik bagi sejumlah nilai pendidikan yang selama ini diajarkan di lingkungan sekolah dan keluarga.

Sekretariat Jenderal DWP Kemendikdasmen, Devi Haerani, S.Pd., M.Psi., melihat kompetisi olahraga sebagai pengalaman pendidikan yang konkret bagi pelajar.

Menurutnya, pertandingan memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghadapi tantangan secara langsung sekaligus belajar mengelola emosi dan membangun kepercayaan diri.

“Kegiatan seperti ini bukan hanya tentang pertandingan dan prestasi, tetapi juga menjadi ruang bagi pelajar untuk belajar disiplin, menghargai lawan, mengelola emosi, serta membangun kepercayaan diri. Karena itu, kami mendukung berbagai kegiatan positif yang dapat memberikan ruang bagi pelajar untuk berkembang, baik secara akademik maupun nonakademik,” ujar Devi.

Menyalurkan Energi, Bukan Melampiaskan Emosi

Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika olahraga dikaitkan dengan persoalan yang dihadapi sebagian generasi muda saat ini, termasuk kecenderungan menyalurkan energi dan emosi melalui konflik antarpelajar.

Dalam konteks itu, ring tinju justru menawarkan jalur yang berbeda. Energi, keberanian dan emosi yang dimiliki remaja tidak dibiarkan berkembang tanpa arah. Semuanya diarahkan ke dalam aktivitas yang memiliki aturan, pelatih, lawan tanding dan tujuan yang jelas.

Di sinilah olahraga kompetitif memiliki fungsi sosial yang lebih luas. Petinju tidak sekadar belajar bagaimana memukul dan bertahan. Mereka belajar kapan harus menyerang, kapan harus menahan diri, bagaimana menghormati batas aturan dan bagaimana bangkit setelah mengalami kekalahan.

Nilai-nilai tersebut menjadikan olahraga sebagai salah satu instrumen pendidikan karakter yang bersifat praktis.

145 Petinju, Dua Kelas Kompetisi

FISTERA 2026 menjadi salah satu ruang yang mempertemukan proses tersebut melalui kompetisi olahraga.

Kejuaraan ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-12 ITERA dan berlangsung selama empat hari, Selasa (29/9/2026) hingga Jumat (2/10/2026), di Aula Gedung Kuliah Umum 2 (GK 2) ITERA.

Sebanyak 145 petinju ambil bagian dalam dua kategori.

Kategori Elite Class diikuti 86 petinju dari kalangan mahasiswa dan umum. Sementara Youth Class diikuti 59 petinju tingkat SMA/SMK sederajat.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa FISTERA tidak hanya menjadi panggung kompetisi bagi atlet yang mengejar prestasi, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara olahraga, pendidikan dan pengembangan generasi muda.

Prestasi di Ring Bisa Berlanjut ke Kampus

Yang membuat FISTERA 2026 memiliki dimensi lebih jauh adalah adanya hubungan langsung antara prestasi di arena dengan kesempatan melanjutkan pendidikan.

Peraih medali emas kategori SMA/SMK sederajat mendapatkan golden ticket untuk melanjutkan pendidikan pada Program Studi Rekayasa Keolahragaan ITERA.

Kebijakan tersebut membuat kemenangan di atas ring tidak berhenti pada medali dan penghargaan.

Prestasi olahraga dapat menjadi pintu menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Bagi pelajar, skema tersebut memberikan pesan bahwa kemampuan dan prestasi di bidang olahraga juga dapat menjadi bagian dari perjalanan akademik dan masa depan mereka.

Dengan kata lain, seorang pelajar tidak harus memilih antara pendidikan dan olahraga. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika prestasi olahraga ditempatkan sebagai bagian dari pengembangan potensi peserta didik.

Dari Ring Menuju Masa Depan

FISTERA 2026 pada akhirnya memperlihatkan bahwa pertandingan tinju dapat memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Ring menjadi tempat menguji kemampuan fisik, tetapi sekaligus menjadi ruang belajar menghadapi tekanan.

Kemenangan mengajarkan bagaimana mempertahankan prestasi. Kekalahan mengajarkan bagaimana menerima hasil dan bangkit kembali. Sementara aturan mengajarkan bahwa keberanian tanpa pengendalian diri bukanlah prestasi.

Ketika pengalaman tersebut kemudian dipertemukan dengan kesempatan memperoleh pendidikan melalui golden ticket, olahraga semakin terlihat sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.

Pesannya sederhana, tetapi penting: energi anak muda tidak harus ditekan, melainkan diarahkan. Emosi tidak harus dilampiaskan, tetapi dikendalikan. Dan prestasi tidak harus berhenti di podium, tetapi dapat menjadi jalan menuju masa depan.

FISTERA 2026 pun tidak hanya menghadirkan pertandingan tinju. Kejuaraan ini menunjukkan bagaimana sebuah arena olahraga dapat berubah menjadi ruang pendidikan, pembentukan karakter dan pembuka peluang bagi generasi muda untuk melangkah lebih jauh.(tim)

Berikan Komentar