Dua Eropa Akan Ke Puncak “Perang”, Spanyol Vs Inggris

Dua Eropa Akan Ke Puncak “Perang”, Spanyol Vs Inggris

Menunggu Siapa Yang ke Final Pildun 2026 : (bagian 1)


Mediasenior|Bandarlampung|Sepakbola|14072026

BANDARLAMPUNG --- Mungkin ini seperti perkiraan yang spekulatif, jika melihat perkembangan empat tim semifinalis Piala Dunia 2026 kali ini, karena dua kekuatan besar memegang simpati dunia, yakni Argentina dan Prancis yang memiliki segundag prestasi dan bintang.

Kita mulai dari Argentina vs Inggris di semifinal. Jika melihat sepakterjang dua tim besar ini ada perbedaan yang sangat mencolok dalam permainan, yakni tentang ketergantungan.

Bagi tim Argentina yang belakangan menjadi bahan pembicaraan dunia sesudah kasus VAR yang menyebabkan gol kedua Mostafa Ziko dianulir wasit François Letexier (Prancis).

Ia menjadi sasaran kritik dari Federasi Sepak Bola Mesir, pelatih Hossam Hassan, hingga penyerang setelah laga berakhir.

Sebelum kita masuk kepada peluang kedua tim di semifinal, mari kita simak sedikit terkait gol yang dianulir tersebut berdasarkan situasi yang ada.

Argentina Anak Emas FIFA?

Menurut keputusan resmi wasit setelah meninjau VAR, gol Ziko dianulir bukan karena offside, melainkan karena terjadi pelanggaran oleh gelandang Mesir Marwan Attia terhadap bek Argentina Lisandro Martínez pada awal proses serangan.

Wasit di ruang VAR saat itu meminta Letexier melakukan on-field review, peninjauan ulang proses di lapangan dan setelah melihat tayangan ulang ia membatalkan gol tersebut. Di sinilah perdebatan muncul.

Dari pihak Mesir berpendapat bahwa pelanggaran tersebut terjadi jauh sebelum gol tercipta,

Argentina sudah sempat kehilangan penguasaan bola, sehingga mereka menilai fase serangan seharusnya sudah berganti dan gol tidak semestinya dibatalkan. Dan ini juga yang dipahami oleh masyarakat yang menyaksikan pertandingan itu.

Sementara itu, FIFA dan sejumlah analis perwasitan berpendapat menurut protokol VAR yang digunakan pada Piala Dunia 2026, jika sebuah serangan dianggap masih merupakan bagian dari fase menyerang yang sama (attacking phase), VAR dapat meninjau pelanggaran di awal proses gol.

Karena wasit menilai tekel Marwan Attia terhadap Lisandro Martínez masih berada dalam fase serangan yang sama, maka gol dibatalkan.

Secara aturan, keputusan Letexier masih bisa dibenarkan berdasarkan interpretasi protokol VAR yang berlaku di turnamen ini (ini aturan baru).

Namun, dari sisi konsistensi penerapan, saya memahami mengapa keputusan itu diperdebatkan. Banyak mantan wasit dan analis menilai VAR dalam turnamen ini terlalu jauh menelusuri awal serangan, sehingga menimbulkan kesan bahwa insiden yang sudah jauh dari momen gol masih dapat mengubah hasil akhir.

Kritik terhadap penerapan protokol ini tidak hanya muncul setelah laga Mesir vs Argentina, tetapi juga pada beberapa pertandingan lain yang melibatkan Argentina selama turnamen.

Menurut saya, momen dianulirnya gol Ziko di menit ke-58 menjadi titik balik pertandingan. Seandainya gol itu disahkan dan Mesir unggul lebih jauh yakni 3-0.

Dinamika pertandingan kemungkinan akan sangat berbeda. Tentu tidak ada jaminan Mesir pasti menang, tetapi keputusan tersebut jelas mengubah momentum psikologis kedua tim.

Ini jawabannya, kenapa Argentina kemudian dinilai sebagai tim yang memiliki “sesuatu” dengan FIFA kali ini. Lebih dari itu, kita semua tak mengerti.

Gol Tangan Tuhan

Faktanya memang tidak semuanya begitu, namun pertandingan melawan Mesir itu sebuah “anomaly” pada tim Argentina. Dalam sepakbola Piala Dunia, dimana dalam waktu kurang dari 70 menit, pasukan Scolani itu tertinggal 0-3 di pertandingan knockout.

Maka dari itu, babak semifinal antara Argentina dan Inggris ini merupakan pertandingan “sakral” di Piala Dunia kali ini, karena rivalitas kedua negara ini bukan saja secara olahraga, namun secara politik juga ada.

Masih ingat, pertandingan yang sangat sarat emosional antara Argentina dan Inggris di Piala Dunia 1986, empat tahun setelah pecah prang di pula Falkland atau lebih poluper disebut perang Malvinas?

Tahun itu, tuan rumahnya Meksiko, dan pertandingan berlangsung di Stadion Azteca, Mexico City, dimana pada beberapa hari lalu Inggris mampu menghentikan perjuangan para pejuang lapangan hijau Meksiko dan keluar dari persaingan selanjutnya, meski dalam tekanan yang hebat.

Gol "Tangan Tuhan" yang terjadi pada 22 Juni 1986 dalam perempat final Piala Dunia FIFA 1986 di Stadion Azteca, Mexico City, Argentina mengalahkan Inggris dengan skor 2–1.

Peristiwa itu menjadi salah satu momen paling terkenal dalam sejarah sepak bola dunia sehingga Maradona dijuluki pemain dengan Gol Tangan Tuhan yang abadi.

Kala itu belum ada VAR, menit ke-51, Diego Maradona melompat bersama kiper Inggris, Peter Shilton, dan menyentuh bola dengan tangan kirinya hingga masuk ke gawang. Wasit asal Tunisia, Ali Bin Nasser, mengesahkan gol karena tidak melihat handball, dan hakim garis juga tidak memberi isyarat pelanggaran.

Namun menghapus keraguan golnya menggunakan tangan, sang maestro Maradona, empat menit kemudian mencetak gol solo yang luar biasa. Setelah menggiring bola dari daerah sendiri, melewati lima pemain Inggris sebelum mengecoh pertahanan terakhir Inggris, Peter Shilton.

Gol ini kemudian dipilih FIFA sebagai "Goal of the Century".  Setelah pertandingan itu, Maradona memberikan pernyataan yang kemudian menjadi legenda. "Sedikit dengan kepala Maradona, sedikit dengan tangan Tuhan." Katanya.

Kalau kita kaitkan dengan diskusi sebelumnya tentang gol Ziko yang dianulir saat Mesir vs Argentina, kontrasnya sangat menarik.

Pada 1986 belum ada VAR, sehingga gol handball Maradona tetap sah karena tidak bisa ditinjau ulang. Dan saat itu Argentina memenangi pertandingan dengan skor 2-1. Dua gol Argentina dicetak Diego Maradona hanya dalam 5 menit, yakni menit 51 dan 55.

Dan 2026 ini sudah ada VAR, sehingga proses gol bisa ditinjau kembali hingga fase awal serangan dan gol dapat dianulir jika ditemukan pelanggaran dalam attacking possession phase, (meski ini juga aturan baru FIFA).

Perbedaan teknologi dan interpretasi aturan inilah yang membuat kontroversi sepak bola terus berkembang dari generasi ke generasi.

Tak Tergantung Bintang

Diawal tulisan ini saya sampaikan perbedaan dua tim ini adalah terkait ketergantungan. Argentina, hingga pertandingan terakhir tetap ada ketergantungan dengan sosok Lionel Messi sepanjang pertandingan, bahkan sampai menit akhir.

Saat menghadapi Norwegia, tim Argentina memerlukan waktu 111 menit untuk membuat comeback yang menghentikan Erling Halland cs ke babak selanjutnya, dengan gol cerdas Messi.

Namun sayangnya Messi meskipun tetap menjadi pahlawan

Menariknya, sampai menjelang semifinal melawan Inggris, Messi tetap menjadi tumpuan utama Argentina. Itulah salah satu alasan mengapa saya sempat mengatakan bahwa jika Inggris mampu membatasi ruang gerak Messi, peluang mereka untuk lolos ke final akan meningkat cukup besar.

Ada beberapa pemain Inggris yang mungkin bisa ditugaskan untuk “membatasi gerak” Messi, yakni Thomas Tuchel bisa menugaskan Declan Rice, John Stones, atau Marc Guéhi.  Atau menerapkan penjagaan zona sehingga tidak ada satu pemain yang terus mengikuti Messi.

Partai semifinal Inggris vs Argentina akan lebih banyak ditentukan oleh duel taktik daripada duel individu. Ada beberapa pemain yang pantas diperhatikan di kubu Inggris yaitu harry Kane, Jude Bellingham dan Anthony Gordon.

Harry Kane, bukan hanya pencetak gol. Dia juga sering turun menjemput bola sehingga membuka ruang bagi pemain sayap dan sangat berbahaya dalam bola mati.

Jika Romero dan Lisandro Martínez terlalu fokus menjaga Kane di kotak penalti, justru Bellingham atau Gordon bisa masuk dari lini kedua.

Jude Bellingham, pemain yang menurut saya paling berbahaya di tim Inggris saat ini. Bellingham memiliki kemampuan membawa bola melewati tekanan, memenangkan duel, tiba-tiba masuk ke kotak penalti pada waktu yang tepat, mencetak gol dari lini kedua.

Kalau saya menjadi Scaloni, pemain pertama yang saya matikan justru Bellingham, bukan Kane.

Anthony Gordon ini yang sering luput dari perhatian banyak orang. Gordon memang bukan pemain paling terkenal di skuad Inggris, tetapi justru kecepatannya luar biasa, sangat rajin melakukan pressing,

tanpa bola terus bergerak mencari ruang, mampu memaksa bek lawan melakukan kesalahan.

Bek kanan Argentina akan bekerja sangat keras jika Gordon dimainkan sejak awal.

Sedangkan di tim Argentina yang utama adalah Lionel Messi. Kalau Messi bisa diisolasi, kreativitas Argentina otomatis berkurang cukup besar. Messi bukan hanya mencetak gol, yang lebih berbahaya adalah umpan terakhirnya (final pass). Satu umpan Messi bisa mengubah pertandingan.

Pemain kedua adalah Lautaro Martínez. Lautaro adalah striker yang pintar membuka ruang.

Kalau Messi tidak mendapat bola bersih, suplai kepada Lautaro juga berkurang.

Adalagi, Rodrigo De Paul. Ini pemain yang sering tidak mendapat sorotan. Padahal menurut saya De Paul adalah "mesin" Argentina.

Pemain ini bisa menekan lawan, merebut bola, menghubungkan lini belakang ke depan,

melindungi Messi. Kalau De Paul kehilangan pengaruh, Argentina akan kesulitan menjaga ritme permainan.

Satu pemain lagi yang sangat penting adalah Alexis Mac Allister. Kalau Mac Allister diberi ruang, maka

ia bisa mengalirkan bola lebih cepat, membantu Messi tidak perlu terlalu sering turun, membuat Inggris kesulitan melakukan pressing.

Prediksi duel taktik

Kalau saya menjadi Thomas Tuchel, instruksi saya sederhana, "Jangan kejar Messi ke mana pun dia bergerak. Tutup semua jalur umpannya."

Ini berbeda dengan banyak tim yang justru terpancing mengikuti Messi ke segala arah. Ketika itu terjadi, ruang di belakang bek atau gelandang menjadi terbuka untuk dimanfaatkan Lautaro, Mac Allister, atau De Paul.

Sebaliknya, jika saya menjadi Lionel Scaloni, saya akan berusaha mengurangi pengaruh Bellingham. Menurut saya, Bellingham adalah pemain yang paling sulit dihentikan Inggris saat ini karena ia mampu bertahan, membangun serangan, sekaligus menjadi ancaman gol.

Prediksi saya, pertandingan ini akan ditentukan oleh siapa yang memenangkan lini tengah. Jika Rice–Bellingham mampu membatasi kreativitas Messi, De Paul, dan Mac Allister, peluang Inggris menuju final akan sangat besar. Sebaliknya, bila Argentina berhasil memutus koneksi Bellingham dengan Kane dan Gordon, mereka akan lebih dekat ke final. * Redaksi. (bagian 2: Kebangkitan  Tim Matador).

Berikan Komentar