Bupati Lamsel Dijadwalkan Nonton Wayang di Grebek Suro Puja Kesuma Malam Ini

Bupati Lamsel Dijadwalkan Nonton Wayang di Grebek Suro Puja Kesuma Malam Ini

Mediasenior|Bandarlampung|SeniBudaya|01072026

---- Dalam rangka memperingati HUT Pujakesuma yang ke 46, Dewan Pimpinan Wilayah Paguyuban Keluarga Besar (PKB) Pujakesuma Provinsi Lampung akan menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Gondo Sutoto, S.Sn dengan membawakan lakon “Semar Mbangun Padepokan”.

Pegaleran ini diselengarakan di Pendopo Pujakesuma Lampung, Jalan Terusan Ryacudu, Desa Banjar Agung, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan, Rabu 1 Juli 2026 atau malam ini.

“Rencananya pak Bupati Egi dari Lampung Selatan akan hadir ke pagelaran ini, dan juga beberapa sesepuh seni budaya di Lampung. Dan kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga acara ini berjalan dengan baik. Bagaimanapun seni budaya adalah bagian dari kehidupan kita bermasyarakat dan bernegara,” ungkap ki Nuryono, ketua PKB Puja Kesuma Lampung, kepada media ini.

Melalui pagelaran ini, lanjut Nuryono, Puja Kesuma mengajak semua komponen untuk melestarikan Seni Budaya, Guyub rukun, membangun Desa. Istilah Grebek Suro dan Nyawiji Roso, adalah momentum menyatukan visi dan misi berbangsa dan bernegara agar Indonesia tetap aman sentosa.

“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus melestarikan dan mencintai kesenian budaya bangsanya sendiri. Budaya adalah identitas bangsa yang harus terus kita rawat bersama,” ujar Nuryono. Rangkaian acara ini akan diawali dengan pembacaan doa oleh Ustaz Imron pukul 19.30 WIB, dilanjutkan laporan ketua pelaksana, sambutan Ketua Pembina Pujakesuma Darmadji CP, sambutan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, penyerahan tokoh wayang, kemudian dilanjutkan pagelaran wayang kulit hingga dini hari.

“Tradisi ini menjadi pengingat bagi generasi penerus agar senantiasa merawat, melestarikan, dan mencintai budaya bangsanya sendiri. Melalui budaya, semangat gotong royong, kebersamaan, dan persatuan akan terus hidup di tengah masyarakat,” tegasnya.

Melalui pagelaran budaya tersebut, Pujakesuma berharap semangat guyub rukun, pelestarian budaya Nusantara, dan nilai kebangsaan semakin kuat, sekaligus menjadi ruang silaturahmi masyarakat lintas suku dan agama di Provinsi Lampung.

Cerita dibalik Lakon

Dalam pagelaran ini ada beberapa pesan yang dikedepankan, utamanya dalam lakon Semar Mbangun Padepokan. Karena lakon ini sebenarnya bukanlah lakon pakem dala pewayangan Mahabarata atau Ramayana, namun ini merupakan bagian dari cerita yang menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat saat ini.

Dimana negara ini sedang mengalami kemerosotan. Para penguasa lebih mengutamakan kekuasaan, harta, dan kepentingan pribadi daripada kesejahteraan rakyat. Banyak ksatria kehilangan arah, sementara para pemimpin kurang mendengarkan suara rakyat.

Melihat keadaan tersebut, Semar merasa tidak cukup hanya menjadi penasihat para Pandawa. Ia kemudian mendirikan sebuah padepokan, yaitu tempat untuk mendidik manusia agar kembali kepada

Alur Cerita Ringkas, Semar melihat kerusakan moral, terjadi ketidakadilan, Rakyat kecil semakin menderita, Para pemimpin saling berebut kepentingan.

Kemudian Semar mendirikan padepokan bersama Gareng, Petruk, dan Bagong, dimana Padepokan ini menjadi tempat belajar: Kejujuran, Kesederhanaan, Kepemimpinan dan Keberanian membela kebenaran.

Seiring berjalannya waktu Banyak orang datang berguru, ada Ksatria muda dan rakyat biasa, ada pula tokoh-tokoh yang ingin memperbaiki diri.

Dengan begitu, ada pihak angkara murka merasa terancam, karena semakin banyak orang memilih jalan kebenaran. Mereka menganggap padepokan sebagai ancaman terhadap kekuasaan. Dan terjadi berbagai ujian yakni adu kekuatan, adu kesaktian, adu kebijaksanaan.

Semar tidak mengandalkan kesaktian semata, melainkan kebijaksanaan, keikhlasan, dan kasih sayang.

Kebenaran akhirnya menang. Musuh menyadari kesalahannya atau berhasil dikalahkan. Padepokan menjadi simbol lahirnya generasi yang berbudi luhur.

Makna Filosofis, lakon ini sebenarnya bukan tentang membangun bangunan fisik, melainkan membangun manusia.

Makna yang terkandung antara lain pemimpin sejati adalah pelayan rakyat, pendidikan lebih penting daripada kekuasaan, ilmu harus disertai akhlak, Kesederhanaan merupakan sumber kekuatan dan perubahan bangsa dimulai dari pembinaan karakter.

Pesan Moralnya dalam lakon ini, bahwa Semar mengajarkan membangun negeri harus dimulai dari membangun manusia.

Padepokan dalam lakon ini melambangkan sekolah, pesantren, keluarga, organisasi, komunitas, bahkan media yang mendidik masyarakat.

Relevansi Saat Ini

Lakon ini tetap relevan karena mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak cukup dengan pembangunan fisik. Yang lebih penting adalah membangun integritas, etika, karakter, dan kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.

Semar menjadi simbol bahwa perubahan besar dapat dimulai dari pendidikan dan keteladanan, bukan semata-mata dari jabatan atau kekuasaan.

Melihat minat Anda pada dunia olahraga dan media, lakon ini juga bisa dimaknai sebagai ajakan untuk membangun "padepokan prestasi"—sebuah ekosistem yang membina karakter atlet, pelatih, dan insan olahraga, sehingga prestasi lahir dari fondasi nilai, bukan hanya dari hasil pertandingan. (don)

Berikan Komentar