Eko A. Saputro: PBSI Lampung Tidak Semata-mata Mengejar Medali PON

Eko A. Saputro: PBSI Lampung Tidak Semata-mata Mengejar Medali PON

Mediasenior|Bandarlampung|Badminton|23052026

---- Mungkin tidak mengejutkan, ketika dalam suksesi kepemimpinan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia ( Musprov PBSI) Lampung, akhirnya hanya muncul satu nama, Eko Agung Saputro sebagai kandidat tunggal yang akhirnya secara aklamasi dinobatkan sebagai Ketua Umum PBSI Lampung hingga 2030.
Eko adalah nama yang sejak belasan tahun lekat di organisasi ini, sejak dipimpin beberapa periode oleh seniornya Abdullah Fadri Auli.
Dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) PBSI Lampung, Eko Agung Saputro, aklamasi dipilih dan akan menahkodai Bulutangkis Lampung lima tahun kedepan.

Usai perhelatan itu, Eko Agung saputro menyampaikan bahwa PBSI Lampung tidak semata-mata hanya memikirkan dan mengejar medali PON.

Namun ada banyak hal penting yang selama ini tidak terlihat, namun justru ini yang kemudian memberikan manfaat terbaik bagi para atlet Bulutangkis Lampung.

“Dunia saat ini memasuki pasar bebas. Pasar bebas ini bukan hanya perdagangan barang saja, tapi juga ke pasar kerja. Pasar bebas ini juga merambah ke dunia olahraga Bulutangkis dimana banyaknya  mantan atlet Lampung yang pernah bermain di PON sejak tahun 2021, justru kini sudah memiliki pekerjaan yang menjanjikan juga,” kata Eko kepada media ini, Sabtu 23 Mei 2026.

Tujuan Utama

Eko menjelaskan bahwa saat membina pemain untuk maksimal mencapai prestasi dengan target meraih medali diberbagai level, terutama di PON, memang menjadi tujuan utama PBSI.

Tujuan utamanya, lanjut Eko Agung, melakukan pembinaan sejak dini sampai ke jenjang prestasi dan bisa mengikuti berbagai pertandingan utamanya di PON dan membela kontingen Lampung untuk menyumbangkan medali.

“Ini adalah bagian dari pengurus untuk membuka jalan mereka ke jenjang berikutnya. Setelah usia prestasi, kita juga akan memastikan bahwa mereka tetap eksis di bulutangkis. Namun jangka pendek dan menengah adalah memberikan peluang untuk berprestasi di level PON,” ungkapnya.

PON, lanjut Eko, masih tetap menjadi sasaran terdekat bagi para atlet binaan PBSI. Bahkan untuk program ini, Eko mengatakan harus ada keberanian untuk menerobos dan melakukan pembinaan yang anti mainstream, dengan mengirimkan para pebulutangkis Lampung ke persaingan terberatnya yakni di daerah-daerah di pulau Jawa.

“Kita terus mencoba, baik menitipkan atau apalah namanya, bisa mengikut sertakan anak-anak kita berlatih di Jakarta, Jawa barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena di sana mereka selain mendapatkan iklim kompetisi yang hidup sepanjang waktu, juga memiliki persaingan langsung dan rutin. Hanya ini yang bisa dipergunakan untuk menembus dominasi kekuatan pulai Jawa. Tanpa itu, yaa kita hanya begitu-begitu saja,” tutur Eko.

Jadi Pelatih di China

Ada hal yang juga penting untuk diupayakan bahwa sesudah masa prestasi di jenjang persaingan resmi seperti PON dan lainnya, maka para mantan pemain PON tetap memerlukan hal lain, yakni pekerjaan.

Maka ada berbagai pekerjaan yang selama ini mulai dipilih orang mantan-mantan atlet PON Lampung, salah satunya menjadi atlet sparing patner dan pelatih di beberapa negara seperti Canada, USA, Qatar, bahkan China.

“Sejak 2021, pasca PON Papua, beberapa atlet yang sudah tidak mungkin lagi turun di PON berikutnya, karena alasan usia uang sudah lewat dan ketentuan PON, maka mereka memilih untuk bisa berkembang dengan berbagai alternatif. Ada yang menjadi pelatih, pemain dan sebagainya. Dan semuanya ke luar Indonesia,” tambah Eko.

Danang Prastowo, misalnya. Dia yang selalu mendampingi atlet Bulutangkis Lampung baik di POPNas maupun PON, kini menetap di Tiongkok menjadi pelatih di sana.

“Selain itu ada mantan pemain PON Papua, Nuraisyah dari Lamtim) sekarang sebagai asisten pelatih di China. M Galih Rezka pemain PON asal Bandarlampung sekarang di Kanada. Iqbal Aji Tri juga dari Lamtim, saat ini berada di Amerika menjadi pemain sparing partner klub-klub besar di sana,” tambah Eko.

Ada nama lain seperti Arya (Lamtim) dan Novia (Lamsel) keduanya berada di Kanada, lalu ada M Rais dan Fauziah dari Bandarlampung kini menjadi pemain sparing partner sekaligus pelatih di China.

“Dan banyak lagi yang lain baik menjadi pelatih dan atlet sparing di negara tersebut. Pendapatan mereka bisa mencapai 15 juta keatas perbulan bersih. Karena tempat tinggal sudah disediakan klub, dengan durasi kontrak bervariasi, ada yang bulanan dan tahunan.” Ungkap Eko.

Minat Menurun

Entah karena situasi dan pola pendidikan di sekolah yang mengalami pergeseran dengan system full day, atau faktor lainnya, Eko Agung mengatakan bahwa ada kecenderungan penurunan grafik peminat muda yang bermain bulutangkis saat ini.

“Saya tidak tau persisnya. Tetapi faktanya sekarang anak-anak usia sekolahseperti tidak berminat bermain bulutangkis. Kemungkinan karena sudah terlalu capek belajar di sekolah, sehingga sore atau malam harinya tidak memungkinkan untuk ikut latihan. Kemungkinan juga orang tuanya tidak mengijinkan karena anaknya harus serius belajar. Itu fakta. Jadi kami harus memutar otak untuk mencari solusinya,” tutur Eko.

Namun demikian, Eko meminta dukungan dari berbagai pihak untuk menjalankan amanat organisasi dalam membina bulutangkis Lampung hingga berprestasi nasional atau lebih dari itu.

Eko mengaku segera menyusun kepengurusan sebaik mungkin dengan mengakomodir orang-orang yang “berdarah” bulutangkis di Lampung. (don)

Berikan Komentar