Oleh: Edi Purwanto – Wartawan Olahraga
BANDARLAMPUNG --- Kenapa kabar tentang permanennya
kandang tim sepakbola Liga 1 Bhayangkara Presisi Lampung FC di stadion Sumpah
Pemuda PKOR Way Halim, tidak serta merta mendapatkan simpati dan dukungan luas
dari masyarakat Lampung?
Mungkin ada beberapa hal yang bisa direnungkan masing-masing oleh kita semua
baik tim, manajemen tim dan masyarakat Lampung pada umumnya, terkhusus para
praktisi sepakbola atau sepakbola mania.
Sejak lama sesuai dengan pengalaman dan pengamatan saya
bergaul dan berkecimpung dengan sepakbola Lampung yakni sejak Galatama (Liga
Sepakbola Utama) yang bergulir di era tahun 1980-an, sampai pada era PSBL di
tahun 1990-an, ada pergeseran sangat besar pada saat ini.
Pergeseran itu sebenarnya dimulai sejak masuknya tim Lampung Sakti, Badak
Lampung dan kini Bhayangkara FC.
Cara Bergaul
Semakin lama, tim-tim besar di Liga 1 atau Liga 2 ini
semakin menjauh dari masyarakat sepakbola Lampung. Tetapi bukan karena alasan
minimnya pemain asal Lampung yang bermain di tim, namun ada degradasi sikap
atau mungkin alasan profesionalisme. Saya juga kurang mengerti secara pasti.
Dalam tulisan ini saya hanya ingin sedikit membandingkan
saja antara Paul dan Paul. Paul Cumming dan Paul Munster dalam menangani tim
dan cara “bergaul” dengan masyarakat sepakbola Lampung.
Barangkali ada yang setuju bahwa di Lampung, sepak bola
itu soal kekeluargaan dan kebanggaan bersama, jadi pendekatan
yang kaku memang kurang pas.
Inilah awal dari apa yang ingin saya sampaikan saat ini
melihat perkembangan komunikasi yang menurut saya tidak “hangat” antara tim
dalam hal ini pelatih Paul Munster dengan masyarakat atau wartawan dan media
peliputnya.
Beberapa keluhan teman-teman wartawan yang meliput
Bhayangkara Presisi Lampung FC terkait cara berkomunikasi “juru taktik” tim ini
dengan pers.
Banyak kata-kata di dunia ini yang bisa dipilih, tetapi
saya sendiri mencoba memahami cara penyampaian alenatore Bhayangkara di setiap jumpa pers menjadi kami jengah
mengikuti jumpa pers rutin itu.
I Don’t Care
Ada dua kalimat favorit mister Paul Munster di setiap
jumpa Pers menjelang pertandingan kandang atau tandang, yakni I Don’t
Care dan Focus to this Game.
Yaa itu tidak salah secara Bahasa. Namun dalam urusan
bahwa wartawan ini akan menulis lo mister. Apa strategi anda untuk
memenangi pertandingan itu, dan uraian bocoran apa saja yang bisa disampaikan
ke calon penonton atau fans.
Jawaban yang selalu “Saya tidak peduli dan kami ingin fokus.”
Tidak memberikan apa-apa untuk waktu jumpa pers yang disediakan.
Bahkan terakhir ketika jumpa Pers di Kediri, ada kalimat
yang sangat tidak simpatik terhadap wartawan dengan lontaran kalimat dari
Munster, “Stupid question”.
Meskipun akhirnya dia sendiri minta diedit kalimatnya
terkait stupid questions, tetapi ini
sudah cukup membuktikan bahwa seorang pelatih yang secara kapasitas seharusnya
lebih bijak dan lebih tinggi secara morality,
justru sering keceplosan seperti itu.
Mungkin saat itu wartawan yang bertanya sangat tersinggung,
namun tetap ikut tertawa, karena terdengar beberapa orang tertawa saat Munster
bilang “stupid question”.
Perlunya Fans
Saya masih belum mengerti arah pemikiran dan komunikasi
pak Munster ini untuk masyarakat Lampung. Sebagai pelatih dia digaji memang
untuk membuat tim berprestasi dan kalua perlu menjuarai kompetisi ini, seperti
yang sebelumnya pernah dilakukan beberapa tahun lalu saat Juara di tahun 2017.
Pada musim tersebut, Bhayangkara FC menggunakan Stadion
Patriot Candrabhaga di Bekasi sebagai markas utama mereka. Saat itu,
Bhayangkara sebagai tim yang tida memiliki basis Fans yang jelas dan tetap,
bisa keluar sebagai juara.
Dan mungkin, ini hanya rekaan pikiran saya saja. Dulu
tanpa penonton kami juga bisa juara, apalagi sekarang ada basis penonton
lokalan. Mungkin seperti itu, tapi saya berharap rekaan saya itu salah.
Lampung adalah basis dimana masyarakat akan mendukung tim
yang bermain bagus dan simpatik, bisa menghargai masyarakatnya juga. Maka,
meskipun tim sendiri jika bermain buruk pasti dicaci maki juga.
Jadi ini saya ada titipan kalimat buat mister Paul biar
faham untuk timnya bisa dicintai masyarakat Lampung.
"While a
manager isn't strictly required to be close to the fans, things work
differently here in Lampung. To truly win the hearts of the people, the team
needs to be open and welcoming to the community."
Sekali lagi, bahwa Lampung ini memiliki karakter unik,
tidak sama dengan Bandung, Jakarta atau Surabaya. Supporter tetap memiliki
penilaian yang objektif.
Makanya jika benar bahwa Bhayangkara FC mau menetap
permanen di Lampung, harus melakukan hal-hal yang cerdas untuk mendekati
masyarakat fans nya.
Sedikit gambaran tentang Paul Cumming. Pelatih PSBL yang
konon adalah guru olahraga di Inggris itu, bisa membawa diri dan dekat dengan
fans. Bahkan dia melakukan beberapa cara untuk bisa membuat tim PSBL disayangi
masyarakat Lampung.
Paul sangat dekat dengan pemain dan penggemarnya. Benar memang berbeda jaman.
Tetapi bicara soal taktik selalu berbicara tim.
Paul Cumming tidak memiliki pemain “semewah” Bhayangkara
FC. Saat itu mayoritas adalah pemain Papua dan Lampung. Bahkan pemain Lampung
juga diberikan porsi lebih banyak bermain dan hasilnya tidak jelek, selalu
berada di papan tengah. Itu sudah cukup, untuk menghibur ribuan fans PSBL.
Tujuan Gubernur Bisa
Gagal
Kita harus ingatkan bahwa tujuan Gubernur Lampung, Rahmat
Mirzani Djausal membawa tim liga 1 ke Lampung semata-mata untuk memberikan
hiburan kepada masyarakat agar bisa menonton pertandingan bermutu dan bisa
menjadi inspirasi dan motivasi para pemain muda Lampung untuk meningkatkan
semangat dan kemampuan bermain sepakbola.
Dampaknya bisa menghasilkan semangat untuk tim Pra PON
Lampung kembali lolos ke PON setelah tahun 2004 terakhir lolos di PON
Palembang. Namun sampai sekarang belum bisa kembali ke persaingan di level PON
lagi.
Saya yakin bahwa tujuan itu bisa saja tidak tercapai,
karena system yang dibangun tim Bhayangkara belum berpihak ke sana. Tim yang
seharusnya bisa dekat dengan masyarakat, sampai sekarang masih berjarak sangat
jauh.
Belum lagi bicara soal mahalnya tiket menyaksikan
pertandingan. Sasaran untuk pelajar juga tidak tercapai, karena mungkin terlalu
mahal untuk para pelajar yang notabene masa depan sepakbola Lampung.
Perlakuan Panpel tidak ramah dan tidak menghargai media,
seolah-olah media hanya numpang nonton pertandingan saja. Ini bisa dibuktikan
sejak pertandingan perdana hingga sekarang.
Kami tidak mengerti sistem peliputan sekarang ini, semua
serba dibatasi dengan ketat dengan alasan profesionalisme industri olahraga dan
entah apalagi yang menyebabkan semua itu terjadi.
Over Acting
Dulu, setiap liputan sepakbola di stadion Pahoman, potografer
koran baik dari lokal (Lampung Post) dan beberapa koresponden surat kabar
nasional seperti Kompas, Suara Pembaruan, Sinar Harapan,Berita Buana, dan
lain-lain seperti berlomba mendapatkan gambar terbaiknya untuk bisa dimuat di
medianya masing-masing.
Sekarang semuanya menunggu ada supply dari Panpel untuk
mengirimkan foto ke wartawan peliput, baru mereka memilih foto yang disukainya
untuk dimuat. Bahkan sering sekali fotonya sama semua.
Yang lebih menyesakkan lagi media televisi lokal tidak
boleh mengambil gambar untuk disiarkan sendiri di medianya dalam durasi lebih
dari 2 menit.
Coba bayangkan, sejak pertama kali manajemen tim melalui
bidang media sudah mengumpulkan di satu grup WhatsApp ada lebih dari 75-an
wartawan dari berbagai media yang mendaftar secara online dengan susah payah.
Tetapi mari kita lihat, berapa media yang sampai saat ini
masih meliput dan menulisnya. Bisa dihitung dengan jari. Ini bukti bahwa
wartawan pun tidak dirangkul secara proporsional. Bahkan ada yang langsung
balik kanan sejak awal, karena tersinggung pada “gaya” panitia pelaksana yang
menurut saya “over acting”.
Setahu saya, wartawan hadir ke stadion dengan ID Card itu
tidak sekedar mau nonton gratis, tetapi mau menyiarkan pertandingan dan
hasilnya ke masyarakat, sehingga ikut menarik perhatian masyarakat datang ke
stadion secara langsung. Ini untuk kepentingan Bhayangkara FC. Kalau disikapi
lain oleh panpel, ini akan repot.
Kalau pak Sumardji pernah bilang bahwa nantinya aka nada acara
tur pemain ke daerah-daerah kabupaten dan kota di Lampung, nanti kita tunggu
apakah bisa dilaksanakan di masa datang.
Dan itupun belum cukup untuk meraih simpati masyarakat
secara tulus. Karena perlu waktu yang panjang kalua untuk tujuan itu.
Main Malam
Kesimpulannya, mungkin ada beberapa yang harus ditinjau
kembali jika ingin memenuhi stadion Sumpah Pemuda dengan penonton lokal.
Pertama harga Tiket untuk kelas tribun terbuka harus
ditinjau kembali. Kedua memanfaatkan potensi penonton muda seperti pelajar SMP
dan SMA serta mahasiswa untuk menonton dengan harga khusus.
Ketiga, Bhayangkara FC tidak sekedar menyandang nama
Lampung saja, tetapi juga cara “bergaul” dengan fans harus lebih baik, dengan
menyapa fans dengan hangat usai pertandingan. Sesekali melemparkan kaos ke
penonton sebelum pertandingan, dan sebagainya yang secara entertainment menjadi bagian dari marketing tim.
Secara bisnis, dengan harga Rp40 ribu bisa menarik
penonton dating ke stadion ada 2.000 an, bagaimana jika dibandingkan dengan
harga tribun terbuka Rp25 ribu, bisa mendatangkan 5.000 penonton.
Meski hitungannya sama, namun gengsi berbeda. Dan yang
penting tujuan pemerintah Lampung memberikan hiburan kepada masyarakat
erpenuhi. Tapi yaa terserah manajemen dan panel lah.
Selamat menonton.
Apalagi kalua ada kebijakan dan kemampuan yang mendukung untuk bermain di malam
hari, mungkin ini solusi yang baik juga untuk mendatangkan penonton ke stadion
yang megah itu. Ini akan mengulang sukses penonton memenuhi stadion Sumpah Pemuda saat itm Lampung main di malam hari (***)
Berikan Komentar