Mediasenior|Bandarlampung|KONI|24012026
----- Ditengah hiruk pikuk program yang terus menuntut
keseriusan dan kerja keras, ada semacam kegelisahan dan kegalauan di hati
nahkoda KONI Provinsi Lampung, Taufik Hidayat.
Ditengah semangat untuk mendorong pembinaan seluruh
cabang olahraga agar terus bergerak dan melakukan yang menjadi tupoksinya
pembinaan, Taufik menyampaikan bahwa sampai sekarang masih ada beberapa cabang
olahraga yang memiliki persoalan internal yang klasik sejak lama.
“Saya tak perlu sebut cabang olahraganya, karena ini bisa
saja terjadi di cabor apapun. Yang terpenting adalah mari yang kita pikirkan
itu atlet. Karena obyek pembinaan dari cabor dan KONI itu kan atlet. Jadi
semuanya bermuara ke sana. Sehingga saya mengimbau kita semua yang posisinya
sebagai Pembina, pengurus cabor, pelatih dan orang tua atlet, mungkin saatnya
kita bersatu sekarang ini untuk merajut kembali prestasi anak-anak kita, atlet,”
kata Taufik kepada media ini, Sabtu 24 Januari 2026, di Bandarlampung.
Ada berbagai macam konflik, lanjut Taufik, semuanya
muaranya ke atlet juga. Menurutnya, saatnya semua pihak kembali ke dalam
hatinya untuk merenungkan bahwa yang terpenting sekarang adalah atlet bisa berlatih
dan mencapai prestasi terbaik.
“Kita semua tahu, siapapun yang berkonflik, baik pihak A
maupun B, sebenarnya semuanya ingin atletnya berprestasi. Dua-duanya tujuannya
sama. Namun kenapa bisa berlarut-larut, itu yang harus dikembalikan kepada
individu. Ada yang pendendam, ada yang pemaaf, ada macam-macam karakter
manusianya.” Tambah Taufik.
Kedepan, lanjut Ketum KONI, banyak pekerjaan rumah yang
harus dihadapi, bukan hanya oleh KONI tetapi juga oleh para pengurus cabor,
pelatih dan atlet.
“Kalau keadaan ini berlanjut berlarut-larut, maka kita
semua rugi, atlet tidak bisa berprestasi, pembinaan kita jadi sia-sia. Lalu
untungnya di mana kalua sudah demikian itu. Maka dari itu, marilah ini saat
yang baik, menjelang Ramadhan kita semua bisa membersihkan diri, membersihkan
hati menghadapi bulan suci. Saling memaafkan dengan momentum yang tepat,
sehingga kebersamaan ke depan akan terjalin kembali dan atlet kita bersemangat
untuk mencapai prestasi terbaik,” tutur Ketum.
Mas Depan
Atlet, memiliki keterbatasan waktu pada usianya. Jika
berfikir ke belakang, bahwa atlet-atlet ini sejak kecil sudah mengorbankan masa
kecil dan masa bermainnya secara umum, hanya karena ingin berprestasi saat yang
tepat.
“Maka kita harus kembali berfikir ke situ. Batas usia produktif
dalam prestasi bagi seorang atlet rata-rata hanya sampai usia di bawah 30
tahun. Kita harus membantu mereka mencapai cita-citanya tercapai. Itulah
keberhasilan Pembina, pelatih dan orang tua dalam mengawal atletnya. Konflik
hanya akan menyita banyak waktu, pikiran, tenaga dan energy kita sendiri yang
hilang tak bermakna. Mempertahankan pendapat atau lebih ekstrimnya ego boleh
saja, tetapi tidak mutlak kemudian berlangsung selama hidup, lalu kapan kita
berprestasi?” ucap Taufik.
Masa depan atlet menjadi salah satu problem yang juga
harus dicari jalan keluarnya. Jika atletnya berprestasi, biasanya kemudahan itu
lebih terbuka bagi masa depannya.
“Saat ini penghargaan kepada atlet berprestasi cukup baik
dan membaik. Maka kita manfaat ini sebagai pemacu untuk menjadikan atlet kita
meraih prestasi tertinggi di setiap kejuaraan baik daerah, nasional maupun
internasional,” tambah Taufik.
Prestasi bagi atlet adalah meraih medali, prestasi
pelatih adalah mengantarkan atletnya meraih medali, demikian juga prestasi Pembina
dan orang tua adalah tatkala atletnya berprestasi. “Jadi jika kita gagal dalam
merangkainya, maka kita semua yang rugi dan tidak berprestasi,” ungkapnya.
Taufik mengimbau semua pihak mulai memperbaiki situasi
ini sesuai denganyang ada di cabor masing-masing, karena satu dengan yang
lainnya persoalannya berbeda. “Semoga kita semua mau melakukannya. Semua
manusia memiliki sisi baik dan sisi buruk, memiliki kekurangan dan kelebihan.
Maka mari kita sadari bahwa kita sudah kehilangan banyak waktu hanya untuk
sebuah konflik yang sangat merugikan kita bersama. Semoga segera membaik.
Aamiin.” Tutup Ketum KONI Lampung. (don)
Berikan Komentar